Di Kota Bandung ini
Bezataranya begitu ketara
Antara Elit dan Marhain
Elit mendongak ke langit
Marhain melata di bumi…sungainya air mata
Hati ini bertanya…sudah bersarapankah si peminta?
Sedangkan yang pertengahan merasa keliru
Antara arah yang mau dituju...
Manusia kan merasa besar
Pabila belanja di Pasar
Manusia kan merasa begitu kerdil...
Pabila adanya tangan-tangan...
Yang menadah meminta-minta
Yang tak sempat kuhulur
Kumohon maaf dari hati yang luhur
Ku titipkan doa…agar yang lebih dermawan kan muncul
Menabur benih budi…penyambung senyum
Justeru tanpa kusedari…
Sesuatu menitis di hujung mata
Hangatnya sepilu hati
Membasahi di pipi
Lantaran, Syukurku diuji begini
Di satu simpang…dalam perjalanan
Bebola mataku sempat melihat
Sandiwara ceritara pilu manusia
Anak-anak yang selayaknya di bangku sekolah...
Berbondong-bondong menggalas jualan
Yang masih bisa ditawar harganya...
Seiring senyuman duka dalam keterpaksaan
Harga sebutir keringat di sini…
Untuk makan malam sekeluarga
Di Kota Bandung ini
Terpahat di sudut dada
Masih ada hilai tawa…di celahan duka nestapa
Seiring bingitnya kota
Kerana dasar syukur seadanya Hamba…
Lantaran itu neon malamnya terus menyala
Sampai bila-bila...sampai bila-bila
Meskipun di hati ini pilu dan hibanya
Masih kuterasa…
Z. Lubes Amir
Aston Braga, Bandung, Indonesia
30.01.2009
Copyright reserved
semakin singkatnya masa...semakin kerdilnya jiwa
ReplyDelete